Makam Mesir Kuno Buktikan Kebenaran Al Quran

Images

Banyak dari pelajar yang belajar bahasa Arab, mulai dari pemula sampai kelas penerjemah mengenal “Lam” sebagai harfu jarrin yang memiliki arti “memiliki” atau “untuk”. Misalnya dalam mengartikan kalimat “Ini milikmu”, banyak dari mereka yang menterjemahkannya dalam bahasa Arab : “هذا لك”.

Namun sejenak kalo kita mentelaah kitab Awdlohil Masaalik, tentu kita mungkin bisa dibuat sedikit tercengang ketika mendapati bahwa “Lam” memiliki dua belas arti. Dan mungkin bisa jadi malah kebingungan ketika Ibnu Hisyam -Pengarang Kitab Awdlohil Masalik- menuliskan salah satu arti daripada “Lam” adalah “Al Isti’laa'” (di atas) yang sangat bertolak belakang dari arti yg kita pahami saat masih awal-awal belajar bahasa Arab.

Apalagi saat Ibnu Hisyam mengkutip salah satu ayat dari surat al Isra sebagai contoh kalimat yang menerangkan bahwa salah satu dari arti harf Lam adalah al Isti’laa.
(قُلۡ ءَامِنُوا۟ بِهِۦۤ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوۤا۟ۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦۤ إِذَا یُتۡلَىٰ عَلَیۡهِمۡ یَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ سُجَّدࣰ
ا)
“Katakanlah Muhammad, Berimanlah kamu kepadanya (Al Quran) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang sudah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al Quran) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajar, bersujud.”

Tambah puyeng kan hehe..

Dan kalo kita perhatikan terjemahan ayat ini, dari kata per kata tentu akan melihat sedikit kejanggalan. Diantaranya : para penerjemah tidak menerjemahkan ” لِلۡأَذۡقَانِ” secara tekstual. Bahkan penerjemahannya cenderung sedikit memaksa dengan terjemahan “mereka menyungkurkan wajah bersujud”. Yang jadi pertanyaan dimana lafadz “الوجه” dalam ayat sehingga bisa diartikan “menyungkurkan wajah”? Terus dimana tekstual penerjemahan harf Lam yang menurut Ibnu Hisyam memiliki arti Isti’laa?

Namun kalo diperhatikan ternyata para penerjemah tidak serta merta menerjemahkan tulisan tersebut, akan tetapi mereka seakan menginduk kepada tafsir Fathul Qodir yang ditulis Al Imam asy Syaukani.
Ditulis dalam kitab tersebut :
يَخِرُّونَ لِلْأذْقانِ سُجَّدًا﴾

أيْ: يَسْقُطُونَ عَلى وُجُوهِهِمْ ساجِدِينَ لِلَّهِ سُبْحانَهُ﴿
“mereka menyungkurkan wajar, bersujud”
dan kalo boleh dibilang tafsir ayat itu persis dengan yg diterjemahkan para penerjemah tadi..

Terlepas dari adanya kesulitan bagi orang awam yang sulit mengartikan kata ” لِلۡأَذۡقَانِ”, ternyata pada waktu yang sama ada penemuan gambar yang tidak sengaja ditemukan ahli sejarah. Yaitu lukisan yang terdapat di makam kuno Firaun di Mesir yg ditemukan baru-baru ini yg disinyalir menggambarkan peribadatan yg dilakukan oleh penduduk Mesir waktu itu.

Dan ajaibnya peristiwa itu sangat persis dengan apa yang digambarkan oleh al Quran dalam ayat yang kita bahas tadi.
(يَخِرُّونَ لِلْأذْقانِ سُجَّدًا)
Maka bukankah ini menjadi bukti bahwa nabi Muhammad SAW tidak berbicara kecuali terdapat tuntunan wahyu dari Allah SWT, menunjukkan bahwa al Quran bukan karangannya sebagaimana yang dituduhkan oleh al Mukadzdzibun (orang-orang yang mengingkarinya).

Bagaimana mungkin nabi Muhammad SAW mengetahui ahli Kitab (penduduk Mesir kuno tadi) sejak ribuan tahun yang lalu bersujud dengan dagunya menempel di tanah?

Allah SWT berfirman.
(إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرࣱ لِّلۡعَـٰلَمِینَ)(وَلَتَعۡلَمُنَّ نَبَأَهُۥ بَعۡدَ حِینِۭ)
Ini (al Quran) tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh alam. Dan sungguh, kamu akan tahu (kebenaran) beritanya (al Quran) beberapa waktu lagi. [QS. Shad 87-88]