Hukuman Bagi Yang Suka Pamer Maksiat

pamer maksiat

Maksiat pada dasarnya adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah dan sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang mukmin untuk menjaga dirinya dari kemaksiatan.

Setiap maksiat yang dilakukan pasti memiliki efek samping, diantaranya maksiat akan membuat hati kotor, keras hati, rusaknya akal serta efek samping terburuk dari maksiat adalah membuat seseorang kehilangan kelezatan dalam beribadah.

Maksiat harus dihindari, namun jika sekalipun kita berbuat maksiat maka selain bertaubat hendaknya kita menyimpan rapat-rapat maksiat tersebut, tidak pelu diceritakan kepada setiap orang apalagi menyengajakan diri untuk berbuat maksiat di depan orang lain, tentu ini adalah kerusakan akhlak dan bencana dalam agama.

Namun mirisnya hari ini, maksiat sudah bukan seperti aib, justru maksiat itu dipertontonkan di khahalayak ramai, bahkan tidak sedikit kemaksiatan tersebut di record kemudian dijadikan alat untuk meraup pundi-pundi rupiah melalui sosial media, Inilah namanya pamer maksiat.

Rasulullah shallalahu alaihi wasalam telah mewanti-wanti orang yang suka memamerkan maksiat dalam sabdanya:

كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره  

Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut,(H.R. Muslim)

Imam Nawawi dalam syarh shahih muslim menerangkan hadist ini:

هُمُ الَّذِينَ جَاهَرُوا بِمَعَاصِيهِمْ وَأَظْهَرُوهَا وَكَشَفُوا مَا سَتَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ فَيَتَحَدَّثُونَ بِهَا لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ وَلَا حَاجَةٍ

(Orang yang suka pamer maksiat) mereka adalah orang yang terang-terangan dengan maksiat yang mereka lakukan dan menampakannya dan mereka telah membuka apa yang telah Allah tutupi dari perbuatan mereka, kemudian mereka menyebarkannya (maksiat) dengan tanpa keperluan mendesak atau kebutuhan tertentu.

Dari penuturan imam nawawi diatas ada beberapa kesimpulan berharga, diantaranya sebagai berikut:

1, menceritakan/Pamer maksiat adalah perbuatan tercela dalam agama

2. Orang yang suka pamer maksiat maka sejatinya dia telah membuka sesuatu yang Allah tutupi, seakan akan dia telah menantang Allah

3. Menceritakan maksiat terkadang dibolehkan dalam beberapa keadaan, seperti untuk kepentingan penyelidikan, persaksian, atau untuk meminta fatwa dari hakim. Maka jika memang dibutuhkan amak tidak mengapa untuk menceritakannya.

Jika di akhir zaman ini mereka begitu bersemangat dalam mempertontonkan maksiat, maka kita layaknya orang yang taat tentu harus lebih giat dalam menampakkan syiar-syiar agama dan ketaatan.

Jika sampai hari ini kita belum mampu memberikan andil yang besar bagi agama, maka hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun bermanfaat, menyebarkan kata-kata kebaikan serta menolong dan mengajak orang lain dalam kebaikan.