Menikung Pinangan Orang Lain

Tikungan
tikungan

Tikung-menikung dari segi bahasa dapat diartikan dengan mendahului atau merebut. Sementara kata tikung-menikung dalam masyarakat sering diartikan dengan mendahului atau bahkan merebut sesuatu yang menjadi hak orang lain.

Dalam perlombaan balap kuda, moto GP, Formula F1 atau yang sejenisnya, tikung menikung adalah sesuatu yang mubah bahkan wajib, karena memang aturan mainnya demikian, lalu bagaimana jika ternyata tikung-menikung ini terjadi pada wanita yang sudah dipinang? dengan kata lain bolehkan seorang laki-laki berusaha untuk mendekati atau merebut wanita yang sudah dipinang oleh laki-laki lain?

Hukum Khitbah

Hukum khitbah adalah tidak wajib, terkadang terjadi akad tanpa di dahului dengan khitbah. Dalam masyarakat sendiri khitbah adalah sesuatu yang sakral, khitbah adalah tanda keseriusan untuk menikah, atau dengan kata lain khitbah adalah pendahulu akad nikah.

Khitbah memang tidak menjamin akan terlangsungnya pernikahan, terkadang dalam masa penantian ada saja halangan atau perkara yang membuat kedua belah pihak membatalkan rencana pernikahan. Akan tetapi pada kebiasaannya khitbah itu hampir pasti menikah.

Larangan Menikung

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَلاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ، حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya

Hadist ini merupakan larangan tegas tentang tidak bolehnya menikung pinangan orang lain dengan alasan apapun, maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah, kemudian menyadarkan dirinya bahwa wanita tidak hanya satu saja, masih banyak wanita diluar sana yang layak untuk dipersunting.

Larangan itu tentunya tidak luput dari hikmah didalamnya, salah satunya adalah untuk meminimalisir terjadinya pertengkaran dan pengkhianatan yang bisa berujung pada dendam dan permusuhan. Bukan rahasia lagi bahwa telah banyak terjadi cek-cok dan pengkhianatan karena berebut hati pujaan hati.

Dengan adanya aturan baku ini, otomatis setiap orang akan termotivasi untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan, sehingga siapa yang lebih dahulu dan kemudian lamarannya terima, maka pintu sudah tertutup bagi yang lain untuk mendekat.

Akan tetapi larangan ini hanya berlaku ketika wanita yang dilamar dan sudah memberikan jawaban dan sudah sepakat untuk menikah, namun jika ternyata wanita tersebut masih dalam masa memilih dan belum memberikan jawaban apapun serta masih mengizinkan laki-laki lain untuk mengutarakan niatnya, maka sah sah saja bagi laki-laki lain untuk datang dan mengutarakan hajatnya.

Menikung Pacar orang lain

Khitbah berbeda dengan pacaran, khitbah adalah bagian dari syariat, sementara pacaran bukan bagian dari syariat atau hubungan ilegal. Sehingga hukum yang berlaku dalam khitbah tidak berlaku pada pacaran.

lalu bolehkah menikung pacar orang lain? Jawabannya boleh bahkan dianjurkan, karena ini adalah misi terhormat untuk menyelamatkannya dari zina, dan ingat tujuan dari menikung ini adalah untuk menikahinya bukan untuk berpacaran dengannya.

Kesimpulannya, menikung pinangan orang lain tidak boleh dan haram, hikmah syariat ini adalah untuk meminimalisir terjadinya pertengkaran dan pengkhianatan yang berujung pada permusuhan.

Jikapun anda memang tidak bisa terlepas darinya dan sangat-sangat menginginkannya sementara dia sudah dipinang orang lain, jangan dekati dia, jangan pula berusaha untuk merebutnya secara diam-diam, itu dosa. Coba datangi orang yang meminangnya dan mintalah izin darinya agar ia merelakan wanita itu untuk anda.

silahkan dicoba dulu, meskipun percobaan ini seperti menantang maut, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Dan ingat, mati ditangan Allah.