Makna Zuhud Yang Sebenarnya

]adda

Ketika mendengar kata “zuhud” yang terbenak didalam pengertian banyak orang zuhud adalah menghindari hal-hal yang bersifat keduniaan. Sehingga sering kita dapati mereka beranggapan bahwa untuk mendapatkan akhirat maka mereka harus meninggalkan dunia dan seisinya secara keseluruhan.

Dan terkadang pula ada yang menyendiri di suatu tempat dengan dalih ingin beribadah kepada Allah dan tidak ingin bersentuhan dengan perkara-perkara yang bersifat duniawi, lantas inikah hakikat zuhud?

Dunia itu sebenarnya tidak tercela secara keseluruhan, tentunya ada yang boleh diambil dan ada yang tidak boleh diambil.

Zuhud secara bahasa adalah lawan kata dari “Gemar” oleh karna itu, seseorang dikatakan zuhud apabila ia meninggalkan kegemaran terhadap dunia.

Adapun secara etimologi Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya ” Majmu’ Al-Fatawa” mendefinisikan Zuhud sebagai berikut:

الزهد المشروع ترك ما لا ينفع في الدار الآخرة وأما كل ما يستعين به العبد على طاعة الله فليس تركه من الزهد المشروع

‘”Zuhud yang disyariatkan adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Adapun segala sesuatu yang dapat digunakan untuk membantunya kepada ketaatan kepada Allah maka meninggalkannya bukan termasuk kedalam zuhud yang disyariatkan”

Berdasarkan pengertian diatas, Zuhud itu bukan semerta-merta meninggalkan dunia secara keseluruhan akan tetapi zuhud adalah meninggalkan perkara dunia yang haram dan tercela, adapun perkara dunia yang mubah bahkan bisa membantunya untuk lebih taat kepada Allah maka meninggalkannya tidak dinamakan zuhud.

Maka mengasingkan diri dari manusia, sampai tidak menikah, tidak bekerja, maka ini bukan zuhud yang dimaksud.

kira- kira siapa di dunia ini yang lebih zuhud dari rasulullah dan para sahabat?Bukankah mereka juga bermuamalah dengan manusia, beribadah, bekerja dan menikah?.

Dan zuhud juga tidak selalu dikait-kaitkan dengan kemiskinan, banyak sahabat yang berprofesi sebagai pedagang dan mereka bergelimang harta namun mereka tetap zuhud dengan dunia. lalu adakah contoh yang lebih baik untuk diteladani selain mereka?

Dan Allah juga mengisyaratkan bahwa manusia juga punya bagian dari dari dunia yang boleh diambil sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an :

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna ayat ini sebagai berikut:

استعمل ما وهبك الله من هذا المال الجزيل والنعمة الطائلة، في طاعة ربك والتقرب إليه بأنواع القربات، التي يحصل لك بها الثواب في الدار الآخرة

Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.

Kesimpulannya zuhud bukanlah meninggalkan dunia secara keseluruhan dan boleh bagi seseorang mengambil bagiannya dari dunia selama bisa membantunya untuk lebih taat kepada Allah.