Inilah Hukum Memuji Secara Berlebihan, Wajib Tau

Hukum memuji

Pujian pada dasarnya boleh dan semua orang suka dipuji, baik itu karena kelebihan fisiknya, atau kecerdasannya atau bahkan kebaikan yang ia miliki.

Namun terkadang pujian tersebut memberikan dampak negatif terhadap orang yang dipuji, entah itu dengan timbulnya rasa ‘ujub (membanggakan diri) atau rasa sombong dan merasa lebih baik dari yang lain. Namun tidak sedikit pula dari hamba Allah yang pandai bersyukur, semakin dipuji dia semakin merendah karena apa yang dia miliki adalah pemberian Allah, bukan usahanya.

Islam sendiri tidak melarang pujian secara mutlak, akan tetapi ketika pujian tersebut berdampak pada fitnah ujub atau kesombongan, maka islam berusaha menutup pintu ini rapat-rapat.

Larangan Memuji

Dalam suatu hadist di ceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang sedang memuji-muji laki-laki lain dihadapan rasulullah, maka tiba-tiba dengan nada marah rasulullah berkata:

وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Celakalah engkau, engkau telah memotong leher saudaramu, engkau telah menyembelih leher saudaramu” (H.R. Muslim)

Lihatlah bagaimana rasulullah menggambarkan orang yang bermudah-mudahan dalam memuji orang lain seakan-akan ia sedang menyembelih leher saudaranya, ini meunjukan tentang bahayanya pujian, berapa banyak orang menjadi sombong dan ujub terhadap diri sendiri disebabkan karena pujian orang lain.

Imam Nawawi dalam kitabnya syarah shahih muslim menjelaskan:

انَّ النَّهْيَ مَحْمُولٌ عَلَى الْمُجَازَفَةِ فِي الْمَدْحِ وَالزِّيَادَةِ فِي الْأَوْصَافِ أَوْ عَلَى مَنْ يُخَافُ عَلَيْهِ فِتْنَةٌ مِنْ إِعْجَابٍ وَنَحْوِهِ إِذَا سَمِعَ الْمَدْحَه

Larangan  yang dimaksud disini karna  bahaya yang timbul dari pujian tersebut dan berlebih-lebihan dalam menambahkan sifat pada orang yang dipuji, atau pujian tersebut ditujukan kepada orang yang ditakutkan terjatuh dalam fitnah jika ia mendengar pujian itu.

Kebolehan Memuji

Masih dalam kitab dan pembahasan yang sama, Kemudian Imam Nawawi melanjutkan:

وأما من لايخاف عَلَيْهِ ذَلِكَ لِكَمَالِ تَقْوَاهُ وَرُسُوخِ عَقْلِهِ وَمَعْرِفَتِهِ فَلَا نَهْيَ فِي مَدْحِهِ فِي وَجْهِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ مُجَازَفَةٌ

Adapun bila tidak ditakutkan fitnah terhadapnya karena kesempurnaan taqwanya, dan juga kemantapan akalnya serta pengetahuannya, maka tidak mengapa untuk memujinya wajahnya, jika tidak terdapat bahaya didalamnya.

Ini seseuai dengan apa yang pernah terjadi pada para sahabat, ketika itu rasulullah sallalahu alaihi wasalam memujinya dengan berkata:

نعم الرجل أبو بكر، نعم الرجل عمر، نعم الرجل أبو عبيدة، نعم الرجل أسيد بن حُضير، نعم الرجل ثابت بن قيس بن شماس، نعم الرجل معاذ بن عمرو بن الجموح، نعم الرجل معاذ بن جبل

“Pria terbaik adalah Abu Bakr, ‘Umar, Abu ‘Ubaidah, Usaid bin Hudhair, Tsabit bin Qais bin Syammas, Mu’adz bin Amru ibnul Jamuh dan Mu’adz bin Jabal.”

Intinya, memuji itu boleh jika kita tahu bahwa orang yang kita puji adalah orang yang mampu menjaga dirinya dari sifat ujub dan sombong, akan tetapi untuk berjaga-jaga maka afdhalnya adalah tidak bermudah-mudah dalam memuji, bisa saja hal itu dijadikan senjata bagi syaithan untuk mengotori hati orang tersebut.

Namun jika orang tersebut tidak terdapat didalamnya sifat-sifat ketakwaan, maka hendaknya jangan memujinya karena ditakutkan itu akan memberikan bahaya baginya, atau pujilah dengan sederhana dan hindari memuji wajah, karena itu sangat rentan dengan ujub dan kesombongan.

Dan apabila jika ternyata pujian itu ditujukan kepada kita, maka hendaknya kita meminta perlindungan dari allah agar kita tidak terjatuh dalam fitnah pujian ini. Kemudian hendaknya kita senantiasa menyadari bahwa kelebihan yang kita miliki adalah pemberian Allah, maka tidak ada yang perlu dibanggakan atau disombongkan.