Hukum Memaksa Anak Perempuan Menikah?

De9ca37b hukum memaksa anak perempuan menikah

Pernikahan adalah ibadah yang sakral dan sekaligus menjadi ibadah terlama. Pernikahan pula adalah ibadah yang di bangun diatas kerjasama, komitmen dan kekompakan antara dua sejoli yang sama-sama mengharap ridha Allah swt.

Oleh karena itu, pernikahan harus dibangun diatas rasa suka sama suka dan saling ridha satu sama lain. suka sama suka disini bukan bermakna harus saling mengenal, akan tetapi adanya persetujuan dan ketertarikan antara kedua belah pihak.

Lantas jika pernikahan terjadi atas dasar paksaan, seperti seorang ayah yang memaksa putrinya untuk menikah dengan laki-laki tertentu, bolehkah perbuatan seperti ini dalam syariat?

Tidak Boleh Memaksa

Secara tegas rasulullah sallalahu alaihi wasalam melarang melalui sabdanya :

لا تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta musyawarahnya. Demikian seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.” Para Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” “Bila ia diam.” Jawab Rasulullah (HR. Bukhari)

Dalam hadis yang lain, Nabi shallahu’alaihiwasallam juga tegas mengatakan,

لثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.”(HR. Muslim)

Dari hadits tersebut jelas bahwa pernikahan yang dipaksakan kepada anak perempuan hukumnya adalah tidak boleh. Orang tua haruslah meminta izin terlebih dahulu kepada sang anak perempuan.

Maka dari itu, kepada anak perempuan yang dipaksa menikah oleh orang tuanya, ia diperbolehkan untuk menolaknya dan jangan sampai hanya berdiam diri saja namun ungkapkan karena diam adalah pertanda setuju.

Dari hadis-hadis di juga kemudian mayoritas ulama (Jumhur) seperti mazhab Hanafi, Imam Ahmad, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, Ibnul Mundzir, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyimpulkan, bahwa kerelaan seorang gadis untuk menerima lelaki yang meminangnya, adalah kewajiban. Memakasanya untuk menikah adalah perbuatan haram.