Dampak Terburuk Maksiat

898818406

Maksiat secara garis besar dapat di definisikan dengan dengan “Perbuatan yang melanggar perintah Allah subhanahu wa ta’ala”. Perbuatan ini disifati dengan perbuatan yang tercela dan buruk dan apabila perbuatan tersebut dikerjakan oleh seorang,  maka ia digelari sebagai pelaku maksiat atau pendosa.

Tentunya setiap perbuatan baik dan buruk akan mendapat balasan serta memberikan dampak bagi pelakunya, seebagaimana orang yang rajin mengerjakan shalat, sedekah dan dzikir maka Allah berikan ketenangan di dalam hatinya dan dampak-dampak positif lainya.

Demikian juga maksiat, ia juga akan memberikan dampak kepada pelakunya,

Imam Ibnu Al-Qayyim dalam kitabnya Ad-dau wa Ad-dawau menjelakan tentang dampak terburuk maksiat sebagai berikut:

أَنَّ الْعَاصِيَ دَائِمًا فِي أَسْرِ شَيْطَانِهِ، وَسِجْنِ شَهَوَاتِهِ، وَقُيُودِ هَوَاهُ، فَهُوَ أَسِيرٌ مَسْجُونٌ مُقَيَّدٌ

Sesungguhnya pelaku maksiat akan selalu berada di dalam tawanan syaithannya dan dalam penjara syahwatnya, dan berada didalam belenggu hawa nafsunya, Maka pelaku maksiat adalah orang yang tertawan dan terpenjara dan terbelenggu.

Bisakah anda bayangkan?

Bagaimana keadaan anda ditawan oleh musuh besar anda dan anda adalah orang yang paling ia musuhi, yang ia sama sekali tidak menginginkan sesuatu apapun dari anda kecuali hanya kebinasaan, apakah kiranya dia akan berbelas kasih kepada anda? tentu tidak.

Tidak cukup sampai disini, Kemudian Ibnu Qayiim juga menuliskan dampak yang lebih buruk :

 فَكَيْفَ يَسِيرُ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ قَلْبٌ مَأْسُورٌ مَسْجُونٌ مُقَيَّدٌ؟

Lalu bagaimana mungkin hatinya berjalan menuju Allah dan Alam akhirat sementara hatinya tertawan terpenjara dan terbelenggu?

Bagaimana mungkin kita berjalan menuju Allah dalam keadaan demikian, sementara Allah berfirman:

                                                                              يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ  اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

 (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS. Asy-Syu’ara’:88-89)