Ketika Orang Tua Durhaka terhadap Anak

Ortu

Berbicara mengenai anak yg durhaka kepada orangtuanya, mungkin diantara kita sudah banyak yang tahu bahwa perbuatan yg seperti ini adalah perbuatan yg tidak terpuji. Perbuatan yg bisa dikatakan merupakan dosa besar yg seharusnya tidak dilakukan oleh seorang muslim.

عن أبي بكرة نفيع بن الحارث: ألا أخبرُكُم بأَكْبرِ الكبائرِ؟ قالوا: بلى يا رسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشراكُ باللَّهِ، وعقوقُ الوالدَينِ، وشَهادةُ الزُّورِ أو قَولُ الزُّورِ قالَ: فما زالَ رسولُ اللَّهِ يقولُها حتّى قُلنا لَيتَهُ سَكَتَ

الألباني (١٤٢٠ هـ)، صحيح الترمذي ٢٣٠١  •  صحيح  •  شرح رواية أخرى

Dari Abi Bakroh Nafi’ bin Harits (meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda) : “Maukah kalian (para sahabat radhiyallahu anhum) aku beri kabar tentang dosa paling besar diantara dosa-dosa besar?”. Para sahabat radhiyallahu anhum pun menjawab : “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau pun bersabda : Syirik kepada Allah SWT, durhaka kepada kedua orang tua, dan sumpah palsu/bohong”. Kemudian dia (perawi) mengatakan : “Dan Rasulullah SAW tetap mengatakannya sampai kami mengira kalo dia gak akan berhenti berbicara”.

Jadi memang dalam hadits ini jelas dikatakan dosa paling besar setelah syirik kpd Allah adalah dosa durhaka kpd kedua orang tua.

Ortu

Akan tetapi perlu kita ketahui bahwa tidak serta merta anak saja yg bisa durhaka kepada orang tuanya. Tapi orang tua pun itu bisa durhaka kpd anaknya. Orang tua durhaka kepada anaknya. Loh kok bisa? Tentu bisa..

Rasulullah pun pernah mengatakan dalam hadits ibnu Umar :

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يعول

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa ketika ia tidak bertanggungjawab atas keluarganya.”

Dalam riwayat lain disebutkan :

إن الله سائل كل راع عما استرعاه، أحفظ إم ضيع حتى يسأل الرجل عن أهل بيته.

“Sesungguhnya Allah akan bertanya setiap pengasuh/penggembala terhadapa apa yg ia asuh/gembala, apakah ia menjaganya atau membiarkannya sampai kemudian Ia bertanya seorang laki2 terhadap anggota keluarganya.”

Jadi ini semua sudah menunjukkan bahwa Orang tua pun itu bisa durhaka kepada anaknya. Maka benarlah kalo kita ini disuruh oleh Allah mencari ilmu, supaya nanti kita bisa mendidik anak dengan benar, tidak durhaka kpd mereka dan supaya mereka kedepan tidak balik durhaka kepada kita.

Ada suatu cerita, yg mana cerita ini terjadi di zaman Umar bin Khattab, dikatakan.

جاء رجلٌ في أحد الأيام لعمر بن الخطاب -رضي الله عنه- يشكو عقوق ابنه، فطلب عمر إحضار الولد، فلّما جاء أنّبه على عقوقه لأبيه، فقال الولد: يا أمير المؤمنين، أليس للولد حقوقٌ على أبيه؟ فقال: نعم، فقال الولد: فما هي يا أمير المؤمنين؟ فقال عمر: أن يحسن اختيار أمه، ويحسن تسميته، ويعلمه القرآن الكريم، فقال الولد: فإنّ أبي لم يفعل شيء من ذلك، فقد تزوج من زنجية كانت لمجوسي فأنجبتني، وسمّاني جعلاً؛ أي خنفساء، ولم يعلمني حرفاً واحداً، فنظر عمر بن الخطاب إلى الرجل وقال له: (جئتني تشكو عقوق ولدك، وقد عققته قبل أن يعقّك، وأسأت إليه قبل أن يسيء إليك)،


Dikatakan bahwa Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah muslimin. Suatu hari didatangi salah seorang rakyatnya yg ingin melaporkan perihal kedurhakaan yg dilakukakan anaknya kepadanya. Sampai kemudian Umar pun meminta utk didatangkan anaknya tersebut di depannya.

Dan ketika datang dan mengakui kedurhakaannya, ia pun bertanya kpd Umar : “Wahai Amirul Mukminin, Bukankah seorang anak itu memiliki hak terhadap bapaknya?”

Kemudian Umar pun menjawab : “Iya.”

Kemudian anak itupun bertanya kembali kepada Umar : “Dan apa itu wahai Amirul Mu’minin?”

Umar pun menjawab : “Ia harus pintar memilih ibu yg baik untuknya, Ia harus memilih nama yg baik, dan Ia harus mengajarinya al Quran.

Lalu anak itu pun berkata : “Sesungguhnya ayahku gak pernah melakukan itu semua. Ia menikah dengan seseorang yg beragama majusi yg kemudian melahirkanku, ia juga telah memberiku nama Ja’lan/Khonfasa yg artinya kumbang, dan ia juga tidak pernah mengajari al Quran walaupun satu huruf”.

Akhirnya Umar bin Khattab pun menatap kepada ayah dari anak tersebut dan berkata : “Kamu kemari utk melaporkan anakmu yg durhaka kepadamu sedangkan kamu telah durhaka kepada anakmu. Sungguh kamu telah berbuat buruk kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu”.

Dan kisah ini kalo kita refleksikan keadaan kita saat ini, sebenernya banyak perbuatan kita yg memang kalo boleh dikatakan menjadi sebab menjadinya anak durhaka kpd orang tuanya.

Dr. Nazid Hammad pernah mengatakan :

وأكثر الأولاد جاء فسادهم من قبل الآباء وإهمالهم لهم، وترك تعليمهم فرائض الدين وسننه، فأضاعواها صغارا فلم ينتفعوا بأنفسهم، ولم ينفعوا آباءهم كبارا.

“Dan kerusakan kebanyakan anak2 itu kebanyakan disebabkan oleh ayah2nya dan segala hal2 yg diremehkan oleh ayahnya, dan ditinggalkannya mengajari kewajiban2 agamanya beserta sunnah2nya. Dan disitulah kemudian para ayahnya tersebut meninggalkan anaknya ketika mereka masih kecil, yg pada akhirnya mereka tidak bisa mengambil manfaat dr ayahnya, maka ketika mereka besar ayahnya pun tidak bisa mengambil manfaat dr mereka”.

Mudah2an kita semua dianugrahi oleh Allah anak yg sholeh, anak yg berbakti kepada kita, anak yg mudah2an bisa menjadi syafaat bagi kita di akhirat kelak. Aamiin..