Jangan Berlebihan Dalam Mencintai Orang Soleh

orang sholeh

Pada dasarnya semua keturunan nabiyullahi Adam alaihissalam berjalan diatas agama Allah, yakni agama Islam. Ketika adam wafat, keturunannya masih juga berada didalam agama islam selama kurun waktu 10 abad lamanya.

Kemudian setelah 10 abad berlalu barulah mereka sedikit demi sedikit keluar dari agama nenek moyangnya disebabkan karna sikap “Ghuluw” (berlebih-lebihan) dalam mencintai orang orang shalih, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:


وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرً

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”(An-Nuh: 23)

Mereka semua yang disebut dalam ayat diatas adalah orang orang sholeh yang mengajak mereka kepada kebaikan dan melarang mereka dari kekejian. Kemudian ketika mereka wafat, maka mereka khawatir agama ini akan berkurang setelah kematian mereka.

Maka digambarlah wajah wajah setiap dari orang-orang shaleh ini dan diletakkan ditempat dimana mereka dulu beribadah, supaya ketika orang orang melihat gambar orang orang shaleh ini, mereka teringat dengan jasa jasa mereka.

Kemudian datang generasi setelah mereka generasi yang jauh lebih mengagungkan orang orang shaleh ini namun mereka belum mnyembahnya. Hingga ketika zaman terus bergilir, dan bumi dilanda kekosongan dari para ulama, datanglah syaithan membisikkan kedalam hati orang orang bahwa tidaklah gambar gambar orang sholeh ini diabadikan kecuali karna mereka bisa memberi syafaat dan mendekatkan mereka kepada Allah.

Maka mulailah mereka menyembah orang-orang shaleh ini. Dan tatkala kesyirikan ini semakin menyebar, Allah utus Rasulnya Nuh alaihissalam untuk mengembalikan mereka ke agama nenek moyang mereka Adam ‘alaihissalam.

Ketika Nuh wafat, kesyirikan kembali lagi merekah di bumi Allah, maka Allah kembali utus Rasulnya yang lain untuk mendakwahkan tauhid kepada Allah, begitu seterusnya sampai Allah utus Nabi Muhammad sallalahu alaihi wa salam sebagai nabi dan rasul terakhir.

Maka tidak ada umat yang bernaung dibumi Allah ini kecuali sudah Allah utus bagi mereka seorang Rasul yang mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa taala, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl:36)

Hendaknya kita menempatkan mereka di tempat yang sesuai, benar bahwa mereka adalah orang sholeh, namun mereka tetap manusia dan bukan Tuhan. Maka bersikap menghormati adalah sebuah kewajiban, namun tidak untuk berlebih-lebihan, karena sesuatu yang berlebihan biasanya membinasakan.